Ulasan Pasar per 30 April 2020

IHSG pada penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2020 mencatatkan kenaikan sebesar 3,26% atau naik 149,08 poin ke level 4.716,4. Secara ytd IHSG mengalami penurunan sebesar -25,48% dan secara mingguan mengalami kenaikan sebesar 4,90%. Secara Bulanan Indeks Regional ditutup positif, Hangseng 24.643,59 (4,41%), S&P 500 2.830,71(9,52%), Nikkei 225 19.619,35(3,71%), Dow 23.723,69(8,24%).

VIX index yang menjadi acuan indikator utama terhadap volatilitas pasar saham dan sentimen investor tercatat menurun 30,54%, secara bulanan hal ini menunjukkan kecemasan di pasar yang berkurang.

Pekerja dari sektor formal maupun informal yang terkena dampak COVID-19 terus bertambah, bahkan melonjak. Hingga 11 April 2020, sudah ada 2,8 juta pekerja yang di PHK dan dirumahkan. Dalam sepekan ada lonjakan sampai dua kali lipat dibandingkan 7 April. Di mana pemerintah sempat mengeluarkan data ada 1,2 juta pekerja PHK dan dirumahkan. (Sumber : Kementrian Ketenagakerjaan).

International Monetary Fund (IMF) dan World Bank memperkirakan Indonesia masih bisa tumbuh positif di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19. Indonesia menjadi satu dari tiga negara yang mampu bertahan dari wabah virus ini, hal ini karena kebijakan signifikan dan tepat sasaran untuk mendukung perekonomian yang diambil oleh pemerintah Indonesia.  Indonesia diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 2,3 persen di kuartal II dan III pada tahun ini, sementara pertumbuhan akan membaik di kuartal IV-2020. Dampak dari pandemik Covid-19 membuat berbagai negara mengkombinasikan kebijakan penanganan dan stimulus ekonomi yang besar.

Ulasan Pasar per 31 Maret 2020

Pemerintah menyiapkan lima insentif dan stimulus perpajakan untuk menangani dampak virus Covid-19 terhadap ekonomi Indonesia. Insentif tersebut terdiri dari: 1)  Penurunan tarif PPh Badan menjadi 22% untuk tahun pajak FY20E-FY21E dan 20% pada tahun pajak FY22E; 2) PPh badan bagi perusahaan yang tergolong emiten menjadi 19% pada tahun pajak FY20E-FY21E, dan 17% pada tahun pajak FY22E; 3) Pemajakan atas transaksi eletronik bagi impor barang tidak berwujud dan jasa oleh platform luar negeri; 4) Perpanjangan jangka penyelesaian administrasi perpajakan menjadi maksimal sembilan bulan; 5) Fasilitas kepabeanan di mana memberikan kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk memberikan fasilitas kepabenanan.

 

G-20 akan menyuntikan dana hingga US$ 5 triliun ke dalam ekonomi global. Ini dilakukan untuk meredam potensi resesi yang mungkin bisa saja terjadi. G-20 adalah kelompok negara yang terdiri dari Afrika Selatan, AS, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Inggris, China, India, Indonesia. Ada pula Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Rusia, Turki dan Uni Eropa.

 

Senat AS telah menyetujui pemberian stimulus fiskal sebesar $2T, dimana sebesar $100M untuk kesehatan, $350M untuk UMKM, $250M untuk tenaga kerja dan $500M untuk dunia usaha, disamping bantuan sosial yang diberikan. Sementara, pemerintah Jerman telah menyetujui paket stimulus fiskal sebesar 10% dr PDB yang bernilai +- $860M. Langkah fiskal yang dilakukan  negera besar memperkuat langkah-langkah yg ditempuh oleh Bank Sentral di berbagai negara dalam meredam kepanikan global.

 

Ulasan Pasar per 28 Februari 2020

IHSG pada penutupan perdagangan hari jumat 28 Februari 2020 mencatatkan penurunan sebesar 1,50% atau turun 82,99 poin ke level 5.452,70. Secara year to date IHSG mengalami penurunan sebesar -13,85%. Dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 6.304 Triliun dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp 6.463 Miliar. Asing secara ytd mencatatkan net sell sebesar Rp 4.723,44 miliar.

DJIA, Indeks Hangseng, S&P 500, dan Nikkei225 ditutup variatif 28 Februari 2020, DJIA 25.409,36 -0,82%(ytd -11,30%), HSI 26.129,93 -2,42%(ytd -7,42%), S&P500 2.954 -0,82%(-8,83%), dan nikkei225 ditutup di 21.142,96 -3,67% (-11,31%).

Rupiah (kurs jisdor) ditutup di level 14.234 di akhir perdagangan hari jumat kemarin melemah 3,32% secara mingguan dan -1,99% secara ytd

Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1%-5,5% menjadi 5%-5,4%. Penyebabnya, virus corona dinilai akan berdampak ke perekonomian dalam negeri. Dari sisi pariwisata, wabah virus corona akan membuat Indonesia kehilangan devisa US$ 1,3 miliar. Hal ini seiring pelarangan penerbangan ke Cina. Sedangkan dari sisi perdagangan, Indonesia berpotensi kehilangan US$ 300 juta akibat gangguan logistik terhadap ekspor, dapat mencapai US$ 700 juta. BI juga memperkirakan dana investasi dari Cina menurun US$ 400 juta.

BI memangkas bunga acuan sebesar 25 bps untuk menjaga daya tahan ekonomi dari dampak penyebaran virus korona. BI melakukan langkah preventif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global akibat terjadinya Covid-19. wabah virus corona mulai berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Hal itu tecermin dari perlambatan pertumbuhan penerimaan pajak. Dari penerimaan bruto, realisasi pajak dari sektor perdagangan pada Januari 2020 mulai melambat. Realisasi pajak dari sektor itu hanya Rp 22,18 triliun. Pertumbuhannya melambat dari 8,4% pada Januari 2019 menjadi 2,6%.