Ulasan Pasar per 31 Agustus 2026

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Agustus ditutup di level 6.525,48, naik 0,11%. Kinerja IHSG pada Agustus 2026 secara keseluruhan mencatatkan kenaikan +4,64% sepanjang bulan. IHSG melanjutkan reli dua bulan beruntun setelah rebound kuat di bulan Juli. Penguatan IHSG didukung terutama oleh penguatan sektor industri, energi, dan keuangan (khususnya saham perbankan seperti BBRI dan BBNI), serta technical rebound dan bargain hunting saham-saham yang sudah mengalami jenuh jual.  

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Agustus 2026 ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,70% dilevel 53.185,90, indeks S&P 500 melemah 0,33% dilevel 7.686,14 dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,12% dilevel 26.370,89. Bursa saham Amerika melemah akibat lonjakan harga minyak mentah dipicu ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Sentimen pasar juga dibayangi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga dan kekhawatiran inflasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) saat ini berada di kisaran Rp17.710–17.745 per dolar. Rupiah bergerak di zona yang relatif stabil tapi masih rentan setelah melemah tipis di akhir Agustus didorong oleh kombinasi ketegangan geopolitik AS-Iran yang memicu risk-off dan penguatan dolar, serta sinyal hawkish dari The Fed di Jackson Hole yang membuat pasar mengantisipasi suku bunga AS tetap tinggi lebih lama. Meski BI mempertahankan suku bunga di 5,75% dan aktif melakukan intervensi, sentimen pasar cenderung tetap waspada sehingga rupiah berisiko bergerak dalam tekanan hingga ada katalis positif yang lebih kuat.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 3,19% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% (YoY). Pada bulan Agustus tercatat terjadi inflasi sebesar 0,21%, sedangkan dibulan sebelumnya Juli, terjadi deflasi sebesar 0,14%. BPS mencatat penyebab inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar dan beras. Kelompok lain penyumbang inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama emas perhiasan.

Harga minyak mentah Brent menyentuh kisaran US 91,14 per barel dan WTI bertengger kokoh di level US 86,58 per barel. Pergerakan harga yang merangkak naik ini disebabkan kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan akibat manuver pemangkasan produksi oleh negara-negara pengekspor utama minyak. Selain itu, letupan ketegangan geopolitik juga memicu kecemasan atas kelancaran distribusi energi global. Kendati diwarnai ketidakpastian, permintaan pasar tetap berputar kencang seiring optimisme pemulihan aktivitas industri global.

Sepanjang bulan September 2026, IHSG diprediksi masih mampu melanjutkan penguatan dengan resistant utama berada di level 6.964, sementara support penting di level 6.348. Momentum positif IHSG didorong oleh pemulihan ekonomi domestik, kepastian suksesi Gubernur BI, stabilitas kebijakan moneter, dan fundamental emiten yang kuat,

Ulasan Pasar per 31 Juli 2026

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juli ditutup di level 6.236,13, naik 0.80%. Kinerja IHSG pada Juli 2026 secara keseluruhan mencatatkan kenaikan +10,51% sepanjang bulan. Ini menjadi rebound kuat setelah indeks sempat turun konsisten sekitar 34% sejak awal tahun hingga Juni 2026. Penguatan didukung mayoritas sektor, terutama barang baku dan kesehatan. Di sisi global, The Fed yang menahan suku bunga, data ekonomi AS yang lebih lunak, meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan rotasi dana ke emerging market turut memperkuat sentimen positif IHSG sehingga mendorong aksi beli investor domestik maupun investor asing di hampir seluruh sektor.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Juli 2026 ditutup menguat. Indeks S&P 500 menguat 0,70% ke level 7.489,72, indeks Nasdaq Composite naik 1,00% menjadi 25.373,85, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,53% ke posisi 52.485,03. Bursa saham Amerika selama bulan Juli 2026 bergerak volatil dan berakhir beragam, S&P 500 turun tipis 0,1% ke level 7.489,72, Dow Jones naik 0,3% ke 52.485,03, sementara Nasdaq anjlok 3,2% ke 25.373,85 akibat aksi jual besar di saham semikonduktor dan teknologi. Tekanan utama datang dari kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak terkait konflik Iran, keputusan Fed mempertahankan suku bunga, serta keraguan terhadap return investasi saham-saham sektor AI.

Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026 bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.030 per dollar AS. Rupiah berpotensi menguat didukung kebijakan agresif Bank Indonesia melalui intervensi valas, dan imbal hasil SRBI yang menarik, ditambah cadangan devisa yang memadai serta meredanya permintaan valas musiman. Sementara di sisi eksternal pelemahan US dollar akibat data ekonomi AS yang lemah dan koreksi harga minyak turut menopang penguatan rupiah terhadap US dollar.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,34% (YoY). Pada bulan Juli tercatat terjadi deflasi sebesar 0,14%, sedangkan dibulan sebelumnya Juni, inflasi sebesar 0,44%. BPS mencatat komoditas dominan mendorong deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan rawit andil 0,06%, telur ayam ras dan tomat andil 0,03%, jeruk andil deflasi 0,02%.

Harga minyak dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Minyak jenis Brent turun 4,70% menjadi US$ 83,8 per barel, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 80 per barel, melemah 5%. Pelemahan harga ini utamanya dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta harapan pemulihan pasokan minyak dunia melalui selat Hormuz.

Sepanjang bulan Agustus 2026, IHSG diprediksi masih mampu melanjutkan penguatan dengan resistant utama berada di level 6.300-6.385, sementara support penting di 6.000-6.180. Momentum positif IHSG didorong oleh laporan keuangan emiten yang solid (khususnya perbankan), stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia, serta sentimen global yang lebih risk-on seiring The Fed yang menahan suku bunga. 

Ulasan Pasar per 30 Juni 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juni ditutup di level 5.643,19. Kinerja IHSG pada Juni 2026 secara keseluruhan melemah dengan volatilitas tinggi. Indeks sempat anjlok tajam di awal Juni ke kisaran 5.300 akibat tekanan global, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing yang masif. Akumulasi net sell investor asing di sepanjang tahun berjalan 2026 telah mencapai Rp71,68 triliun. Saham-saham blue chip perbankan (seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) menjadi motor utama yang paling banyak dilepas investor asing.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Juni 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 0,3% ke level 52.319,20, indeks Nasdaq naik 1,5% ke posisi 26.213,72 dan S&P 500 menguat 0,8% kelevel 7.499,36. Kinerja fluktuatif Wall Street sepanjang bulan Juni 2026 dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) dan koreksi massal pada saham-saham sektor teknologi serta industri kecerdasan buatan (AI) akibat kekhawatiran pasar bahwa valuasinya sudah terlalu mahal (overvalued).

Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026 bergerak di kisaran Rp 17.883 hingga Rp 17.922 per dollar AS, masih tertahan mendekati level psikologis Rp 18.000 akibat bayang-bayang tekanan ekonomi global. Sentimen pergerakan mata uang Garuda saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah terkait eskalasi di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global. Dari dalam negeri, sentimen positif Rupiah datang dari langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang memperkuat intervensi pasar melalui instrumen spot, DNDF, dan SBN, serta wacana efisiensi anggaran pemerintah demi menjaga stabilitas fiskal dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,34% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% (YoY). Pada bulan Juni tercatat terjadi inflasi sebesar 0,44%, sedangkan dibulan sebelumnya Mei, inflasi sebesar 0,28%. BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar ialah sektor transportasi dengan nilai 2,29%. Kelompok pengeluaran ini memberikan andil inflasi 0,28%.

Harga minyak dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Minyak jenis Brent naik 0,69% menjadi US$ 73,45 per barel, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 70,13 per barel. Kenaikan harga ini utamanya dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melakukan pertemuan langsung dengan utusan Amerika Serikat yang menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara serta potensi gangguan pasokan dan perlambatan arus pengiriman energi global melalui Selat Hormuz.

Sepanjang bulan Juli 2026, IHSG diprediksi masih berada di bawah tekanan volatilitas tinggi . IHSG masih rawan koreksi menguji kembali area support krusial di rentang 5.300–5.500. IHSG berpeluang mengalami technical rebound dengan ditopang oleh rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026, potensi meredanya aksi jual investor asing (net sell), serta momentum akumulasi bertahap (buy on weakness) pada saham-saham blue chip yang valuasinya sudah relatif murah.