Ulasan Pasar per 29 Mei 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Mei ditutup di level 6.127,38. Sepanjang bulan Mei, IHSG mengalami pelemahan sebesar 11,92% jika dibandingkan dengan posisi akhir April yang sempat berada di level 6.956,8. Pelemahan tajam IHSG di bulan Mei dipicu oleh aksi jual masif oleh investor asing. Pada pekan terakhir Mei, nilai net sell investor asing harian mencapai Rp 8,51 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun (YTD) hingga akhir Mei 2026, aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah menembus Rp 53,97 triliun. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu kekhawatiran risiko kurs bagi investor asing sehingga mereka cenderung melakukan penjualan di pasar saham Indonesia.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Mei 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 0,72% ke level 51.032,46, indeks Nasdaq naik 0,20% ke posisi 26.972,62 dan S&P 500 menguat 0,22% kelevel 7.580,06. Kinerja bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) sepanjang bulan Mei 2026 bergerak dengan volatilitas tinggi, namun berhasil mencetak rekor baru (all-time high) sebelum akhirnya mengalami tekanan di penghujung bulan. Secara garis besar, pergerakan Wall Street selama Mei 2026 dipengaruhi oleh dua narasi utama, yaitu rally saham sektor kecerdasan buatan (AI) dan kembali mencuatnya risiko geopolitik serta inflasi energi.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Kamis (04/06) bergerak di kisaran Rp 18.000 – Rp 18.050 per dolar AS. Rupiah bergerak melemah 0,71% dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.966. Pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik seperti eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset safe haven, serta sikap hawkish Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam inflasi struktural. Tekanan makro ekonomi ini memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar negara berkembang.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan April 2026 yang tercatat sebesar 2,42% (YoY). Pada bulan Mei tercatat terjadi inflasi sebesar 0,28%, sedangkan dibulan sebelumnya April, inflasi sebesar 0,13%. BPS mencatat, komoditas dominan yang mendorong inflasi yaitu cabai merah dengan andil 0,08%, minyak goreng dan bawang merah dengan andil masing-masing 0,04%. Selain kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, tekanan inflasi juga dipicu oleh kenaikan harga di sektor transportasi dengan inflasi sebesar 0,61% dan andilnya 0,07%.

Harga minyak dunia jenis Brent Crude berada di kisaran US$96.62 per barel, sementara harga minyak jenis WTI Crude berada dilevel US$94.93 per barel. Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif namun tetap bertahan di level tinggi akibat eskalasi militer di wilayah Teluk yang melibatkan konflik AS-Iran serta ancaman gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik ini diperparah oleh peringatan dari Badan Energi Internasional (IEA) mengenai menipisnya stok cadangan minyak global menjelang puncak musim panas. Para analis memproyeksikan harga minyak global masih akan tertahan kuat di rentang USD 90 hingga USD 100 per barel selama situasi di kawasan tersebut belum mereda.

Sepanjang bulan Juni 2026, IHSG diproyeksikan akan bergerak konsolidatif untuk mencari area bottoming mengingat kondisi pasar yang sudah jenuh jual (oversold). Faktor penggerak utama IHSG akan didominasi oleh tekanan makro ekonomi domestik dan global, terutama depresiasi nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp18.000 per Dolar AS, serta defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang memicu arus modal keluar oleh investor asing.

Ulasan Pasar per 30 April 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir April ditutup melemah -2,03% dilevel 6.956,80. Sepanjang bulan April, IHSG mengalami pelemahan sebesar 1,00%. IHSG menunjukkan kinerja fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Sentimen utama berasal dari faktor global seperti kekhawatiran geopolitik timur tengah dan ekspektasi suku bunga AS yang mendorong sikap risk-off investor. Dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap aliran dana keluar akibat rebalancing MSCI, dan outlook negatif sektor perbankan turut memperberat laju pergerakan IHSG selama bulan April.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir April 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 1,62% ke level 49.652,14, indeks Nasdaq naik 0,89% ke posisi 24.892,31 dan S&P 500 menguat 1,02% kelevel 7.209,01. Pasar saham AS selama bulan April mengalami rebound tajam dari penurunan di bulan Maret. Penguatan saham-saham AS didukung oleh earnings korporasi yang kuat (khususnya Big Tech), harapan de-eskalasi di Selat Hormuz, serta rotasi ke saham growth dan small-cap. Semua indeks utama mencatat rekor tinggi baru di akhir bulan. Meski bergerak volatil di tengah berita kenaikan harga minyak, sentimen risk-on mendominasi sepanjang April.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Rabu (06/05) dibuka menguat 0,34% dilevel Rp 17.350. Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen kuat menjaga stabilitas rupiah sebagai prioritas utama di tengah tekanan geopolitik dan penguatan USD. BI mengerahkan seluruh instrumen secara terukur dan berkelanjutan melalui triple intervention (pasar spot, DNDF domestik, serta NDF offshore), pembelian SBN di pasar sekunder, serta optimalisasi operasi moneter pro-market seperti SRBI untuk menarik inflow investor asing. Dengan cadangan devisa yang memadai (sekitar USD 148 miliar), BI meyakini rupiah saat ini undervalued dan akan stabil serta berpotensi menguat sejalan fundamental ekonomi Indonesia yang solid, inflasi terkendali, serta imbal hasil obligasi negara yang menarik.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada April 2026 yang tercatat sebesar 2,42% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48% (YoY). Pada bulan April tercatat terjadi inflasi sebesar 0,13%, sedangkan dibulan sebelumnya Maret, inflasi sebesar 0,41%. BPS mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,90% dan tingkat inflasi 3,06%. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,43% dengan andil 0,77%.

Harga minyak dunia jenis Brent Crude berada di kisaran US$108 per barel (turun sekitar 1-2%), sementara harga minyak jenis WTI Crude juga melemah dilevel US$100-102 per barel. Harga minyak dunia tetap jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun karena gangguan pasokan besar akibat konflik AS-Iran yang memblokade Selat Hormuz (jalur ~20% minyak dunia). Analis memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak lagi ke level $150 jika gangguan berlanjut hingga akhir tahun.

IHSG pada bulan Mei diprediksi bergerak  sideways dengan kecenderungan menguat. Indeks diperkirakan akan bergerak di kisaran level 6.956–7.494. IHSG masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global (arah suku bunga Federal Reserve, geopolitik timur tengah dan harga komoditas) serta faktor domestik seperti stabilitas rupiah dan arus dana asing. Sektor komoditas masih berpotensi menopang IHSG dengan volatilitas yang cukup tinggi.

Ulasan Pasar per 31 Maret 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Maret ditutup melemah 0,61% dilevel 7.048,22. Sepanjang bulan Maret, IHSG mengalami pelemahan sebesar 14,41%. Kinerja sektoral menunjukkan sektor transportasi, energi, dan teknologi mencatatkan penurunan terdalam pada akhir Maret, sementara sektor barang konsumen primer sempat menguat. Volatilitas tinggi membuat pasar cenderung sideways dengan kecenderungan melemah. Selama bulan Maret, Investor asing melakukan aksi jual bersih yang signifikan senilai Rp23,34 triliun.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Maret 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 2,49% ke level 46.341,51, indeks Nasdaq naik 3,83% ke posisi 21.590,63 dan S&P 500 menguat 2,91% kelevel 6.528,52. Penguatan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski jalur vital Selat Hormuz masih belum sepenuhnya dibuka. Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi penentu dalam konflik tersebut dan menegaskan perang bisa meningkat jika tidak tercapai kesepakatan. Konflik yang telah berlangsung selama sebulan ini membuat indeks S&P 500 dan Dow mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2022. Investor khawatir lonjakan harga energi akan menekan permintaan barang dan jasa sekaligus memaksa Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Senin (04/02) dibuka stagnan dilevel Rp 16.990. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat 0,22% ke level 100,248. Kenaikan DXY menunjukkan dolar AS masih diburu investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal terutama penguatan dolar AS di pasar global seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perang Iran yang terus memanas. Fokus utama investor tertuju pada tenggat terbaru dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Februari 2026 yang tercatat sebesar 4,76% (YoY). Pada bulan Maret tercatat terjadi inflasi sebesar 0,41%, sedangkan dibulan sebelumnya Februari, inflasi sebesar 0,68%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada tiga kelompok pengeluaran masyarakat yang mengalami tekanan inflasi tinggi pada Maret 2026, pertama ialah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan angka inflasi 7,24% dan andilnya ke IHK 1,08%. Kedua, ialah kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan angka inflasi mencapai 15,32% dengan andil hanya sebesar 1,02% terhadap IHK. Terakhir, ialah makanan, minuman, dan tembakau yang inflasinya 3,34% dengan andil 0,99%.

Harga minyak dunia jenis WTI berada diposisi US$ 110,63 per barel, sementara harga minyak jenis brent dikisaran US$ 109,59 per barel. Pasar energi global saat ini berada dalam bayang-bayang gangguan suplai dari Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat distribusi minyak tersendat. Sejumlah kilang dilaporkan mulai mencari sumber alternatif termasuk dari kawasan Laut Utara dan Teluk AS yang memicu persaingan harga di pasar fisik.

Bulan April 2026, IHSG diprediksi bergerak fluktuatif dengan potensi rebound terbatas. Faktor penekan IHSG masih berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang menyebakan kenaikan harga energi serta penguatan dolar AS. IHSG diprediksi bergerak dengan range level 6.900 – 7.450.