Ulasan Pasar per 30 September 2026



Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan 30 September 2026 ditutup melemah 0,83% atau 50,56 poin ke level 6.071,14. Investor asing tercatat melakukan jual bersih sebesar Rp1,56 triliun. Sepanjang bulan September, IHSG mencatat kinerja negatif dengan penurunan sekitar 6,95%, sejalan dengan aliran modal asing yang keluar lebih dari Rp 7 triliun dengan pelemahan di sejumlah sektor besar seperti energi dan keuangan.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir September 2026 ditutup beragam. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,86% ke level 50.906,05, S&P 500 turun 0,25% ke 7.651,54, sementara Nasdaq Composite menguat tipis 0,24% ke 26.861,06. Sepanjang bulan September, Dow Jones mencatat penurunan tajam sekitar 4,3%, S&P 500 terkoreksi tipis 0,45%, sedangkan Nasdaq berhasil naik 1,9%. Memasuki Oktober, pasar saham diperkirakan masih bergerak volatil dengan fokus pada data ketenagakerjaan AS, pergerakan yield obligasi yang tinggi, serta keputusan suku bunga The Fed. Secara historis bulan Oktober sering memberikan dukungan positif bagi pasar saham, meskipun tekanan dari harga minyak dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor risiko utama.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal Oktober 2026 bergerak di kisaran Rp17.900-Rp17.930 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan akhir September. Pada penutupan 30 September 2026, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.894 per dolar AS didukung oleh intervensi Bank Indonesia dan sentimen eksternal terkait perkembangan diplomasi di Timur Tengah. Pergerakan rupiah terhadap dolar masih dipengaruhi oleh dinamika suku bunga The Fed, harga minyak dunia, serta data ekonomi domestik dengan risiko volatilitas tetap tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada September 2026 yang tercatat sebesar 3,28% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 3,19% (YoY). Pada bulan September tercatat terjadi inflasi sebesar 0,30%, sedangkan dibulan sebelumnya Agustus, terjadi inflasi sebesar 0,21%. BPS mencatat komoditas yang dominan mendorong inflasi adalah makanan minuman dan tembakau, terutama cabai rawit dengan andil inflasi 0,08% dan cabai merah 0,06%. Kemudian, daging ayam ras juga mendorong inflasi dengan andil 0,05% dan beras 0,03% dan telur ayam ras dengan andil 0,02%.

Harga minyak mentah dunia mengalami pelemahan pada akhir September 2026, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$90 per barel sementara Brent Crude berada di level US$97–100 per barel. Koreksi harga minyak dipicu oleh pemulihan sebagian ekspor minyak dari Timur Tengah, termasuk operasional kembali pipa East-West Arab Saudi serta peningkatan volume pengiriman yang mencapai level tertinggi sejak konflik AS-Iran dimulai. Para analis secara kolektif menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak tahun 2026 menjadi sekitar US$89 per barel untuk Brent dan US$84 per barel untuk WTI, dengan skenario downside menuju US$80 jika pasokan kembali normal, atau upside hingga US$110-120 apabila ketegangan memburuk.

Sepanjang bulan Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami rebound terbatas atau konsolidasi, dengan kisaran pergerakan berada di level 5.850–6.500. Sentimen positif yang berpotensi menopang indeks meliputi pola historis penguatan di bulan Oktober, peluang aksi bargain hunting di level valuasi yang lebih menarik, serta fundamental sejumlah sektor unggulan seperti perbankan, telekomunikasi, dan komoditas energi. Di sisi lain, tekanan utama diperkirakan datang dari tingginya yield obligasi AS (US Treasury), ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed, pelemahan nilai tukar rupiah serta aksi jual bersih investor asing yang masih berlanjut. Level 6.000 akan menjadi support kritis, apabila bertahan peluang technical rebound terbuka, namun jika tembus dapat membuka ruang koreksi lebih dalam.

Ulasan Pasar per 31 Agustus 2026

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Agustus ditutup di level 6.525,48, naik 0,11%. Kinerja IHSG pada Agustus 2026 secara keseluruhan mencatatkan kenaikan +4,64% sepanjang bulan. IHSG melanjutkan reli dua bulan beruntun setelah rebound kuat di bulan Juli. Penguatan IHSG didukung terutama oleh penguatan sektor industri, energi, dan keuangan (khususnya saham perbankan seperti BBRI dan BBNI), serta technical rebound dan bargain hunting saham-saham yang sudah mengalami jenuh jual.  

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Agustus 2026 ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,70% dilevel 53.185,90, indeks S&P 500 melemah 0,33% dilevel 7.686,14 dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,12% dilevel 26.370,89. Bursa saham Amerika melemah akibat lonjakan harga minyak mentah dipicu ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Sentimen pasar juga dibayangi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga dan kekhawatiran inflasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) saat ini berada di kisaran Rp17.710–17.745 per dolar. Rupiah bergerak di zona yang relatif stabil tapi masih rentan setelah melemah tipis di akhir Agustus didorong oleh kombinasi ketegangan geopolitik AS-Iran yang memicu risk-off dan penguatan dolar, serta sinyal hawkish dari The Fed di Jackson Hole yang membuat pasar mengantisipasi suku bunga AS tetap tinggi lebih lama. Meski BI mempertahankan suku bunga di 5,75% dan aktif melakukan intervensi, sentimen pasar cenderung tetap waspada sehingga rupiah berisiko bergerak dalam tekanan hingga ada katalis positif yang lebih kuat.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 3,19% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% (YoY). Pada bulan Agustus tercatat terjadi inflasi sebesar 0,21%, sedangkan dibulan sebelumnya Juli, terjadi deflasi sebesar 0,14%. BPS mencatat penyebab inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar dan beras. Kelompok lain penyumbang inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama emas perhiasan.

Harga minyak mentah Brent menyentuh kisaran US 91,14 per barel dan WTI bertengger kokoh di level US 86,58 per barel. Pergerakan harga yang merangkak naik ini disebabkan kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan akibat manuver pemangkasan produksi oleh negara-negara pengekspor utama minyak. Selain itu, letupan ketegangan geopolitik juga memicu kecemasan atas kelancaran distribusi energi global. Kendati diwarnai ketidakpastian, permintaan pasar tetap berputar kencang seiring optimisme pemulihan aktivitas industri global.

Sepanjang bulan September 2026, IHSG diprediksi masih mampu melanjutkan penguatan dengan resistant utama berada di level 6.964, sementara support penting di level 6.348. Momentum positif IHSG didorong oleh pemulihan ekonomi domestik, kepastian suksesi Gubernur BI, stabilitas kebijakan moneter, dan fundamental emiten yang kuat,

Ulasan Pasar per 31 Juli 2026

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juli ditutup di level 6.236,13, naik 0.80%. Kinerja IHSG pada Juli 2026 secara keseluruhan mencatatkan kenaikan +10,51% sepanjang bulan. Ini menjadi rebound kuat setelah indeks sempat turun konsisten sekitar 34% sejak awal tahun hingga Juni 2026. Penguatan didukung mayoritas sektor, terutama barang baku dan kesehatan. Di sisi global, The Fed yang menahan suku bunga, data ekonomi AS yang lebih lunak, meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan rotasi dana ke emerging market turut memperkuat sentimen positif IHSG sehingga mendorong aksi beli investor domestik maupun investor asing di hampir seluruh sektor.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Juli 2026 ditutup menguat. Indeks S&P 500 menguat 0,70% ke level 7.489,72, indeks Nasdaq Composite naik 1,00% menjadi 25.373,85, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,53% ke posisi 52.485,03. Bursa saham Amerika selama bulan Juli 2026 bergerak volatil dan berakhir beragam, S&P 500 turun tipis 0,1% ke level 7.489,72, Dow Jones naik 0,3% ke 52.485,03, sementara Nasdaq anjlok 3,2% ke 25.373,85 akibat aksi jual besar di saham semikonduktor dan teknologi. Tekanan utama datang dari kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak terkait konflik Iran, keputusan Fed mempertahankan suku bunga, serta keraguan terhadap return investasi saham-saham sektor AI.

Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026 bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.030 per dollar AS. Rupiah berpotensi menguat didukung kebijakan agresif Bank Indonesia melalui intervensi valas, dan imbal hasil SRBI yang menarik, ditambah cadangan devisa yang memadai serta meredanya permintaan valas musiman. Sementara di sisi eksternal pelemahan US dollar akibat data ekonomi AS yang lemah dan koreksi harga minyak turut menopang penguatan rupiah terhadap US dollar.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,34% (YoY). Pada bulan Juli tercatat terjadi deflasi sebesar 0,14%, sedangkan dibulan sebelumnya Juni, inflasi sebesar 0,44%. BPS mencatat komoditas dominan mendorong deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan rawit andil 0,06%, telur ayam ras dan tomat andil 0,03%, jeruk andil deflasi 0,02%.

Harga minyak dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Minyak jenis Brent turun 4,70% menjadi US$ 83,8 per barel, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 80 per barel, melemah 5%. Pelemahan harga ini utamanya dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta harapan pemulihan pasokan minyak dunia melalui selat Hormuz.

Sepanjang bulan Agustus 2026, IHSG diprediksi masih mampu melanjutkan penguatan dengan resistant utama berada di level 6.300-6.385, sementara support penting di 6.000-6.180. Momentum positif IHSG didorong oleh laporan keuangan emiten yang solid (khususnya perbankan), stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia, serta sentimen global yang lebih risk-on seiring The Fed yang menahan suku bunga.