Ulasan Pasar per 31 Juli 2026

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juli ditutup di level 6.236,13, naik 0.80%. Kinerja IHSG pada Juli 2026 secara keseluruhan mencatatkan kenaikan +10,51% sepanjang bulan. Ini menjadi rebound kuat setelah indeks sempat turun konsisten sekitar 34% sejak awal tahun hingga Juni 2026. Penguatan didukung mayoritas sektor, terutama barang baku dan kesehatan. Di sisi global, The Fed yang menahan suku bunga, data ekonomi AS yang lebih lunak, meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan rotasi dana ke emerging market turut memperkuat sentimen positif IHSG sehingga mendorong aksi beli investor domestik maupun investor asing di hampir seluruh sektor.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Juli 2026 ditutup menguat. Indeks S&P 500 menguat 0,70% ke level 7.489,72, indeks Nasdaq Composite naik 1,00% menjadi 25.373,85, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,53% ke posisi 52.485,03. Bursa saham Amerika selama bulan Juli 2026 bergerak volatil dan berakhir beragam, S&P 500 turun tipis 0,1% ke level 7.489,72, Dow Jones naik 0,3% ke 52.485,03, sementara Nasdaq anjlok 3,2% ke 25.373,85 akibat aksi jual besar di saham semikonduktor dan teknologi. Tekanan utama datang dari kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak terkait konflik Iran, keputusan Fed mempertahankan suku bunga, serta keraguan terhadap return investasi saham-saham sektor AI.

Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026 bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.030 per dollar AS. Rupiah berpotensi menguat didukung kebijakan agresif Bank Indonesia melalui intervensi valas, dan imbal hasil SRBI yang menarik, ditambah cadangan devisa yang memadai serta meredanya permintaan valas musiman. Sementara di sisi eksternal pelemahan US dollar akibat data ekonomi AS yang lemah dan koreksi harga minyak turut menopang penguatan rupiah terhadap US dollar.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,34% (YoY). Pada bulan Juli tercatat terjadi deflasi sebesar 0,14%, sedangkan dibulan sebelumnya Juni, inflasi sebesar 0,44%. BPS mencatat komoditas dominan mendorong deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan rawit andil 0,06%, telur ayam ras dan tomat andil 0,03%, jeruk andil deflasi 0,02%.

Harga minyak dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Minyak jenis Brent turun 4,70% menjadi US$ 83,8 per barel, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 80 per barel, melemah 5%. Pelemahan harga ini utamanya dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta harapan pemulihan pasokan minyak dunia melalui selat Hormuz.

Sepanjang bulan Agustus 2026, IHSG diprediksi masih mampu melanjutkan penguatan dengan resistant utama berada di level 6.300-6.385, sementara support penting di 6.000-6.180. Momentum positif IHSG didorong oleh laporan keuangan emiten yang solid (khususnya perbankan), stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia, serta sentimen global yang lebih risk-on seiring The Fed yang menahan suku bunga. 

Ulasan Pasar per 30 Juni 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juni ditutup di level 5.643,19. Kinerja IHSG pada Juni 2026 secara keseluruhan melemah dengan volatilitas tinggi. Indeks sempat anjlok tajam di awal Juni ke kisaran 5.300 akibat tekanan global, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing yang masif. Akumulasi net sell investor asing di sepanjang tahun berjalan 2026 telah mencapai Rp71,68 triliun. Saham-saham blue chip perbankan (seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) menjadi motor utama yang paling banyak dilepas investor asing.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Juni 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 0,3% ke level 52.319,20, indeks Nasdaq naik 1,5% ke posisi 26.213,72 dan S&P 500 menguat 0,8% kelevel 7.499,36. Kinerja fluktuatif Wall Street sepanjang bulan Juni 2026 dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) dan koreksi massal pada saham-saham sektor teknologi serta industri kecerdasan buatan (AI) akibat kekhawatiran pasar bahwa valuasinya sudah terlalu mahal (overvalued).

Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026 bergerak di kisaran Rp 17.883 hingga Rp 17.922 per dollar AS, masih tertahan mendekati level psikologis Rp 18.000 akibat bayang-bayang tekanan ekonomi global. Sentimen pergerakan mata uang Garuda saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah terkait eskalasi di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global. Dari dalam negeri, sentimen positif Rupiah datang dari langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang memperkuat intervensi pasar melalui instrumen spot, DNDF, dan SBN, serta wacana efisiensi anggaran pemerintah demi menjaga stabilitas fiskal dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,34% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% (YoY). Pada bulan Juni tercatat terjadi inflasi sebesar 0,44%, sedangkan dibulan sebelumnya Mei, inflasi sebesar 0,28%. BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar ialah sektor transportasi dengan nilai 2,29%. Kelompok pengeluaran ini memberikan andil inflasi 0,28%.

Harga minyak dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Minyak jenis Brent naik 0,69% menjadi US$ 73,45 per barel, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 70,13 per barel. Kenaikan harga ini utamanya dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melakukan pertemuan langsung dengan utusan Amerika Serikat yang menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara serta potensi gangguan pasokan dan perlambatan arus pengiriman energi global melalui Selat Hormuz.

Sepanjang bulan Juli 2026, IHSG diprediksi masih berada di bawah tekanan volatilitas tinggi . IHSG masih rawan koreksi menguji kembali area support krusial di rentang 5.300–5.500. IHSG berpeluang mengalami technical rebound dengan ditopang oleh rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026, potensi meredanya aksi jual investor asing (net sell), serta momentum akumulasi bertahap (buy on weakness) pada saham-saham blue chip yang valuasinya sudah relatif murah.

Ulasan Pasar per 29 Mei 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Mei ditutup di level 6.127,38. Sepanjang bulan Mei, IHSG mengalami pelemahan sebesar 11,92% jika dibandingkan dengan posisi akhir April yang sempat berada di level 6.956,8. Pelemahan tajam IHSG di bulan Mei dipicu oleh aksi jual masif oleh investor asing. Pada pekan terakhir Mei, nilai net sell investor asing harian mencapai Rp 8,51 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun (YTD) hingga akhir Mei 2026, aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah menembus Rp 53,97 triliun. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu kekhawatiran risiko kurs bagi investor asing sehingga mereka cenderung melakukan penjualan di pasar saham Indonesia.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Mei 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 0,72% ke level 51.032,46, indeks Nasdaq naik 0,20% ke posisi 26.972,62 dan S&P 500 menguat 0,22% kelevel 7.580,06. Kinerja bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) sepanjang bulan Mei 2026 bergerak dengan volatilitas tinggi, namun berhasil mencetak rekor baru (all-time high) sebelum akhirnya mengalami tekanan di penghujung bulan. Secara garis besar, pergerakan Wall Street selama Mei 2026 dipengaruhi oleh dua narasi utama, yaitu rally saham sektor kecerdasan buatan (AI) dan kembali mencuatnya risiko geopolitik serta inflasi energi.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Kamis (04/06) bergerak di kisaran Rp 18.000 – Rp 18.050 per dolar AS. Rupiah bergerak melemah 0,71% dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.966. Pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik seperti eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset safe haven, serta sikap hawkish Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam inflasi struktural. Tekanan makro ekonomi ini memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar negara berkembang.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan April 2026 yang tercatat sebesar 2,42% (YoY). Pada bulan Mei tercatat terjadi inflasi sebesar 0,28%, sedangkan dibulan sebelumnya April, inflasi sebesar 0,13%. BPS mencatat, komoditas dominan yang mendorong inflasi yaitu cabai merah dengan andil 0,08%, minyak goreng dan bawang merah dengan andil masing-masing 0,04%. Selain kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, tekanan inflasi juga dipicu oleh kenaikan harga di sektor transportasi dengan inflasi sebesar 0,61% dan andilnya 0,07%.

Harga minyak dunia jenis Brent Crude berada di kisaran US$96.62 per barel, sementara harga minyak jenis WTI Crude berada dilevel US$94.93 per barel. Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif namun tetap bertahan di level tinggi akibat eskalasi militer di wilayah Teluk yang melibatkan konflik AS-Iran serta ancaman gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik ini diperparah oleh peringatan dari Badan Energi Internasional (IEA) mengenai menipisnya stok cadangan minyak global menjelang puncak musim panas. Para analis memproyeksikan harga minyak global masih akan tertahan kuat di rentang USD 90 hingga USD 100 per barel selama situasi di kawasan tersebut belum mereda.

Sepanjang bulan Juni 2026, IHSG diproyeksikan akan bergerak konsolidatif untuk mencari area bottoming mengingat kondisi pasar yang sudah jenuh jual (oversold). Faktor penggerak utama IHSG akan didominasi oleh tekanan makro ekonomi domestik dan global, terutama depresiasi nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp18.000 per Dolar AS, serta defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang memicu arus modal keluar oleh investor asing.