Ulasan Pasar per 30 Juni 2026




Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juni ditutup di level 5.643,19. Kinerja IHSG pada Juni 2026 secara keseluruhan melemah dengan volatilitas tinggi. Indeks sempat anjlok tajam di awal Juni ke kisaran 5.300 akibat tekanan global, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing yang masif. Akumulasi net sell investor asing di sepanjang tahun berjalan 2026 telah mencapai Rp71,68 triliun. Saham-saham blue chip perbankan (seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) menjadi motor utama yang paling banyak dilepas investor asing.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Juni 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 0,3% ke level 52.319,20, indeks Nasdaq naik 1,5% ke posisi 26.213,72 dan S&P 500 menguat 0,8% kelevel 7.499,36. Kinerja fluktuatif Wall Street sepanjang bulan Juni 2026 dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) dan koreksi massal pada saham-saham sektor teknologi serta industri kecerdasan buatan (AI) akibat kekhawatiran pasar bahwa valuasinya sudah terlalu mahal (overvalued).

Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026 bergerak di kisaran Rp 17.883 hingga Rp 17.922 per dollar AS, masih tertahan mendekati level psikologis Rp 18.000 akibat bayang-bayang tekanan ekonomi global. Sentimen pergerakan mata uang Garuda saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah terkait eskalasi di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global. Dari dalam negeri, sentimen positif Rupiah datang dari langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang memperkuat intervensi pasar melalui instrumen spot, DNDF, dan SBN, serta wacana efisiensi anggaran pemerintah demi menjaga stabilitas fiskal dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,34% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% (YoY). Pada bulan Juni tercatat terjadi inflasi sebesar 0,44%, sedangkan dibulan sebelumnya Mei, inflasi sebesar 0,28%. BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar ialah sektor transportasi dengan nilai 2,29%. Kelompok pengeluaran ini memberikan andil inflasi 0,28%.

Harga minyak dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Minyak jenis Brent naik 0,69% menjadi US$ 73,45 per barel, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 70,13 per barel. Kenaikan harga ini utamanya dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melakukan pertemuan langsung dengan utusan Amerika Serikat yang menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara serta potensi gangguan pasokan dan perlambatan arus pengiriman energi global melalui Selat Hormuz.

Sepanjang bulan Juli 2026, IHSG diprediksi masih berada di bawah tekanan volatilitas tinggi . IHSG masih rawan koreksi menguji kembali area support krusial di rentang 5.300–5.500. IHSG berpeluang mengalami technical rebound dengan ditopang oleh rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026, potensi meredanya aksi jual investor asing (net sell), serta momentum akumulasi bertahap (buy on weakness) pada saham-saham blue chip yang valuasinya sudah relatif murah.