Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir April ditutup melemah -2,03% dilevel 6.956,80. Sepanjang bulan April, IHSG mengalami pelemahan sebesar 1,00%. IHSG menunjukkan kinerja fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Sentimen utama berasal dari faktor global seperti kekhawatiran geopolitik timur tengah dan ekspektasi suku bunga AS yang mendorong sikap risk-off investor. Dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap aliran dana keluar akibat rebalancing MSCI, dan outlook negatif sektor perbankan turut memperberat laju pergerakan IHSG selama bulan April.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir April 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 1,62% ke level 49.652,14, indeks Nasdaq naik 0,89% ke posisi 24.892,31 dan S&P 500 menguat 1,02% kelevel 7.209,01. Pasar saham AS selama bulan April mengalami rebound tajam dari penurunan di bulan Maret. Penguatan saham-saham AS didukung oleh earnings korporasi yang kuat (khususnya Big Tech), harapan de-eskalasi di Selat Hormuz, serta rotasi ke saham growth dan small-cap. Semua indeks utama mencatat rekor tinggi baru di akhir bulan. Meski bergerak volatil di tengah berita kenaikan harga minyak, sentimen risk-on mendominasi sepanjang April.
Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Rabu (06/05) dibuka menguat 0,34% dilevel Rp 17.350. Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen kuat menjaga stabilitas rupiah sebagai prioritas utama di tengah tekanan geopolitik dan penguatan USD. BI mengerahkan seluruh instrumen secara terukur dan berkelanjutan melalui triple intervention (pasar spot, DNDF domestik, serta NDF offshore), pembelian SBN di pasar sekunder, serta optimalisasi operasi moneter pro-market seperti SRBI untuk menarik inflow investor asing. Dengan cadangan devisa yang memadai (sekitar USD 148 miliar), BI meyakini rupiah saat ini undervalued dan akan stabil serta berpotensi menguat sejalan fundamental ekonomi Indonesia yang solid, inflasi terkendali, serta imbal hasil obligasi negara yang menarik.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada April 2026 yang tercatat sebesar 2,42% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48% (YoY). Pada bulan April tercatat terjadi inflasi sebesar 0,13%, sedangkan dibulan sebelumnya Maret, inflasi sebesar 0,41%. BPS mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,90% dan tingkat inflasi 3,06%. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,43% dengan andil 0,77%.
Harga minyak dunia jenis Brent Crude berada di kisaran US$108 per barel (turun sekitar 1-2%), sementara harga minyak jenis WTI Crude juga melemah dilevel US$100-102 per barel. Harga minyak dunia tetap jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun karena gangguan pasokan besar akibat konflik AS-Iran yang memblokade Selat Hormuz (jalur ~20% minyak dunia). Analis memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak lagi ke level $150 jika gangguan berlanjut hingga akhir tahun.
IHSG pada bulan Mei diprediksi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat. Indeks diperkirakan akan bergerak di kisaran level 6.956–7.494. IHSG masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global (arah suku bunga Federal Reserve, geopolitik timur tengah dan harga komoditas) serta faktor domestik seperti stabilitas rupiah dan arus dana asing. Sektor komoditas masih berpotensi menopang IHSG dengan volatilitas yang cukup tinggi.
Recent Comments