Ulasan Pasar per 31 Maret 2026

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Maret ditutup melemah 0,61% dilevel 7.048,22. Sepanjang bulan Maret, IHSG mengalami pelemahan sebesar 14,41%. Kinerja sektoral menunjukkan sektor transportasi, energi, dan teknologi mencatatkan penurunan terdalam pada akhir Maret, sementara sektor barang konsumen primer sempat menguat. Volatilitas tinggi membuat pasar cenderung sideways dengan kecenderungan melemah. Selama bulan Maret, Investor asing melakukan aksi jual bersih yang signifikan senilai Rp23,34 triliun.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Maret 2026 ditutup menguat. Indeks Dow Jones menguat 2,49% ke level 46.341,51, indeks Nasdaq naik 3,83% ke posisi 21.590,63 dan S&P 500 menguat 2,91% kelevel 6.528,52. Penguatan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski jalur vital Selat Hormuz masih belum sepenuhnya dibuka. Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi penentu dalam konflik tersebut dan menegaskan perang bisa meningkat jika tidak tercapai kesepakatan. Konflik yang telah berlangsung selama sebulan ini membuat indeks S&P 500 dan Dow mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2022. Investor khawatir lonjakan harga energi akan menekan permintaan barang dan jasa sekaligus memaksa Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Senin (04/02) dibuka stagnan dilevel Rp 16.990. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat 0,22% ke level 100,248. Kenaikan DXY menunjukkan dolar AS masih diburu investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal terutama penguatan dolar AS di pasar global seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perang Iran yang terus memanas. Fokus utama investor tertuju pada tenggat terbaru dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Februari 2026 yang tercatat sebesar 4,76% (YoY). Pada bulan Maret tercatat terjadi inflasi sebesar 0,41%, sedangkan dibulan sebelumnya Februari, inflasi sebesar 0,68%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada tiga kelompok pengeluaran masyarakat yang mengalami tekanan inflasi tinggi pada Maret 2026, pertama ialah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan angka inflasi 7,24% dan andilnya ke IHK 1,08%. Kedua, ialah kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan angka inflasi mencapai 15,32% dengan andil hanya sebesar 1,02% terhadap IHK. Terakhir, ialah makanan, minuman, dan tembakau yang inflasinya 3,34% dengan andil 0,99%.

Harga minyak dunia jenis WTI berada diposisi US$ 110,63 per barel, sementara harga minyak jenis brent dikisaran US$ 109,59 per barel. Pasar energi global saat ini berada dalam bayang-bayang gangguan suplai dari Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat distribusi minyak tersendat. Sejumlah kilang dilaporkan mulai mencari sumber alternatif termasuk dari kawasan Laut Utara dan Teluk AS yang memicu persaingan harga di pasar fisik.

Bulan April 2026, IHSG diprediksi bergerak fluktuatif dengan potensi rebound terbatas. Faktor penekan IHSG masih berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang menyebakan kenaikan harga energi serta penguatan dolar AS. IHSG diprediksi bergerak dengan range level 6.900 – 7.450.