Ulasan Pasar per 30 Januari 2026




Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Januari ditutup menguat 1,18% dilevel 8.329,15. Sepanjang Januari,  IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH) dilevel 9,174. Menjelang akhir bulan, sentimen pasar berubah drastis akibat tekanan eksternal masuknya peringatan dari MSCI (penyedia indeks global) terkait isu kepemilikan saham asing dan transparansi pasar modal Indonesia. Hal ini memicu aksi jual yang sangat kuat, bahkan menghapus sekitar 8% nilai pasar dalam 2 hari perdagangan dan memaksa regulator mengambil langkah responsif.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Januari 2026 ditutup melemah. Indeks Dow Jones melemah 0,36% ke level 48.892,47, indeks Nasdaq turun 0,94% ke posisi 23.461,82 dan S&P 500 melemah 0,43% kelevel 6.939,03. Pelemahan pasar saham Amerika dipicu tekanan saham-saham teknologi dan aksi jual besar di pasar komoditi perak yang sebelumnya mengalami reli spekulatif. Pelemahan terjadi meskipun pasar secara umum menyambut positif keputusan Presiden Donald Trump yang menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell.

Akhir bulan Januari 2026, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar (capital outlow) di pasar keuangan dalam negeri sebesar Rp 12,55 triliun dalam periode 26 – 29 Januari 2026. Aliran modal asing tercatat keluar melalui instrument pasar saham sebesar Rp 12,40 triliun dan instrument Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 2,77 triliun. Sementara di instrument Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) investor asing tercatat melakukan beli bersih sebesar Rp 2,61 triliun. Sejak awal tahun hingga 29 Januari 2026, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sebanyak Rp 4,84 triliun dipasar saham, dan instrument SRBI sebesar Rp 6,18 triliun. Sementara di instrument SBN, terjadi aliran modal asing yang keluar sebesar Rp 100 miliar.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari kamis (05/02) dibuka dilevel Rp 16.780, melemah 0,09%. Dolar AS mendapat sentimen positif seiring musim laporan keuangan korporasi di AS dan pergeseran sentimen ke aset yang lebih defensif (risk-off). Pelaku pasar pun masih memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya, sehingga arah dolar tetap menjadi salah satu penentu utama pergerakan mata uang global.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 3,55% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan Desember 2025 yang tercatat sebesar 2,92% (YoY). Pada bulan Januari tercatat terjadi deflasi sebesar 0,15%, sedangkan dibulan sebelumnya Desember, inflasi sebesar 0,64%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi yoy Januari 2026 didorong oleh Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mengalami inflasi tinggi, yaitu 11,93%. Kelompok ini juga memberi andil inflasi tahunan cukup tinggi, yaitu 1,72%.

Harga minyak dunia diperdagangan Kamis (05/02) dibuka menguat. Minyak jenis WTI berada diposisi US$ 65,14 per barel, sementara harga minyak jenis brent dikisaran US$ 69,46 per barel. Harga minyak dunia naik setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di tengah negosiasi program nuklir Teheran. Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran apabila negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan yang mengatur program nuklirnya.

Bulan Februari 2026, IHSG diprediksi bergerak fluktuatif.  Peringatan dari MSCI terkait isu kepemilikan saham asing dan transparansi pasar modal Indonesia masih menjadi sentimen negatif bagi pergerakan pasar saham Indonesia. IHSG diprediksi mengalami teknikal rebound dengan range level 8.000 – 8.700.

Ulasan Pasar per 30 Desember 2025

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Desember ditutup menguat tipis 0,03% dilevel 8.646,94. Sepanjang tahun 2025, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH) sebanyak 24 kali. Tahun 2025, Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 16,40 triliun. Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian bursa mencapai Rp18 triliun, melampaui target awal BEI sebesar Rp13,3 triliun. Dengan capaian tersebut, BEI kini masuk dalam jajaran bursa saham dunia dengan nilai transaksi harian di atas USD1 miliar.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir Desember 2025 ditutup melemah.  Indeks Dow Jones melemah 0,63% ke level 48.063,29, indeks Nasdaq naik 0,76% ke posisi 23.241,99 dan S&P 500 naik 0,74% kelevel 6.845,50. Sepanjang tahun 2025, pasar saham Amerika Serikat diwarnai ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Donald Trump serta euforia besar terhadap saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Sepanjang tahun 2025, indeks S&P 500 menguat 16,39%, index Nasdaq naik 20,36%, dan Dow Jones menguat 12,97%.

Akhir bulan Desember 2025, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk (capital inflow) di pasar keuangan dalam negeri sebesar Rp 2,43 triliun dalam periode 30-31 Desember 2025. Aliran modal asing tercatat masuk melalui instrument pasar saham sebesar Rp 1,23 triliun, dan instrument Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1,66 triliun. Sedangkan di instrument Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) investor asing tercatat melakukan jual bersih sebesar Rp 460 miliar. Sejak awal tahun hingga 31 Desember 2025, aliran modal asing yang keluar Indonesia sebanyak Rp 17 triliun dipasar saham, instrument SRBI sebesar Rp 110,11 triliun. Sementara di instrument SBN tercatat capital inflow sebesar Rp 2,01 triliun.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Senin (05/01) dibuka dilevel Rp 16.700, menguat 0,09%. Pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik pasca serangan militer AS ke Venezuela. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) tercatat masih melanjutkan penguatan sebesar 0,14% ke level 98,567 sekaligus memperpanjang reli penguatan dolar selama lima hari perdagangan berturut-turut.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada Desember 2025 yang tercatat sebesar 2,92% (YoY), lebih tinggi dibanding dengan bulan November 2025 yang tercatat sebesar 2,72% (YoY). Pada bulan Desember tercatat terjadi inflasi sebesar 0,64%, sedangkan dibulan sebelumnya November, inflasi sebesar 0,17%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi yang lebih tinggi pada tahun ini dipicu oleh tekanan harga untuk kelompok pengeluaran masyarakat seperti makanan, minuman, dan tembakau, dengan angka inflasi 4,58% (yoy) dan andilnya terhadap keseluruhan inflasi 1,33%. Komoditas dengan andil inflasi terbesar untuk kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras dan daging ayam ras.

Harga minyak dunia diperdagangan Senin (05/01) dibuka stagnan. Minyak jenis WTI berada diposisi US$ 57,26 per barel, sementara harga minyak jenis brent dikisaran US$ 60,76 per barel. Pasar minyak global sedang menghadapi pasokan yang melimpah dan permintaan yang tidak cukup kuat untuk menyerapnya. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat memang sempat memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Namun pasar dengan cepat menilai bahwa dampaknya justru bisa memperbesar suplai dalam jangka menengah, bukan sebaliknya.

Bulan Januari 2026, IHSG diprediksi bergerak positif didukung trend bullish yang sudah terbentuk sejak akhir 2025. IHSG diprediksi menguat dengan dukungan saham-saham sektor energi, pertambangan serta logistik (saham perkapalan). IHSG diperkirakan bergerak dengan range level 8.700 – 9.000.

Ulasan Pasar per 28 November 2025

 

 

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir November ditutup melemah 0,43% dilevel 8.508,71. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 912,51 miliar dan di seluruh pasar mencapai Rp 1,02 triliun. Secara bulanan IHSG berhasil menguat 4,22%. Bulan November, IHSG juga berhasil mencetak rekor All-Time High baru dilevel 8.602.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir November 2025 ditutup menguat.  Indeks Dow Jones menguat 0,61% ke level 47.716,42, indeks Nasdaq naik 0,65% ke posisi 23.365,69 dan S&P 500 naik 0,54% kelevel 6.849,09. Indeks utama di Wall Street ditutup menguat, terdorong oleh pelemahan indeks dolar AS yang semakin dalam seiring menguatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada Desember.

Akhir bulan November 2025, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk (capital inflow) di pasar keuangan dalam negeri sebesar Rp 12,7 triliun dalam periode 24-27 November 2025. Aliran modal asing tercatat masuk melalui instrument pasar saham sebesar Rp 2,01 triliun, instrument Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 0,41 triliun dan di instrument Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 10,27 triliun. Sejak awal tahun hingga 27 November 2025, aliran modal asing yang keluar Indonesia sebanyak Rp 26,41 triliun dipasar saham, instrument SRBI sebesar Rp 145,26 triliun serta instrument SBN  sebesar Rp 3,3 triliun.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar pada perdagangan hari Selasa (02/12) dibuka dilevel Rp 16.625, menguat 0,15%. Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Dolar AS tercatat masih berada dalam tekanan setelah rilis data manufaktur Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi, hal ini meningkatkan spekulasi penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan Desember ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahunan pada November 2025 yang tercatat sebesar 2,72% (YoY), lebih rendah dibanding dengan bulan Oktober 2025 yang tercatat sebesar 2,86% (YoY). Pada bulan November tercatat terjadi inflasi sebesar 0,17%, sedangkan dibulan sebelumnya Oktober, inflasi sebesar 0,28%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tekanan inflasi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang m engalami inflasi 0,06% dengan andil 0,02%, serta kesehatan 0,12% dengan andil 0,01%.

Harga minyak dunia diperdagangan Selasa (02/12) dibuka menguat. Minyak jenis WTI berada diposisi US$ 59,50 per barel, sementara harga minyak jenis brent dikisaran US$ 63,30 per barel. Harga minyak dunia bergerak menguat didorong kekhawatiran terhadap pasokan global akibat serangan drone di fasilitas minyak Rusia serta keputusan OPEC+ yang menahan produksi minyak dunia hingga kuartal I 2026.

Bulan Desember 2025, IHSG diprediksi bergerak positif didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang akan mendukung aliran modal ke emerging market seperti Indonesia. Fenomena Window Dressing yang terjadi menjelang akhir tahun diperkirakan akan menopang penguatan IHSG lebih lanjut. IHSG diperkirakan bergerak dengan range level 8.514 – 9.000.